Tampilkan postingan dengan label Bab I. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bab I. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Januari 2014

BAB I B.Masalah Pengembangan Melati

Dengan adanya peningkatan taraf hidup serta pendapatan penduduk yang semakin padat, menyebabkan
bunga melati tidak bisa dipisahkan dalam setiap kegiatan masyarakat. Peningkatan akan kebutuhan tersebut, baik kebutuhan lokal maupun ekspor, tidak terlepas dari kendala-kendala dalam pengembangan melati, khususnya di tingkat petani.

Beberapa kendala yang dihadapi dalam usaha pengembangan melati adalah sebagai berikut :

  1. Kualitas bunga, disebabkan bunga tidak bertahan lama, ukuran dan aromanya kurang sesuai dengan permintaan.
  2. Adanya fluktuasi harga, dipengaruhi oleh iklim, kebutuhan pema-kaian, dan musim berbunga.
  3. Tanaman bunga melati jarang yang diremajakan sehingga mempengaruhi produktivitas.
  4. Kuantitas ketersediaan yang jarang terpenuhi, baik untuk kebutuhan lokal maupun ekspor.
  5. Perlu dorongan dan rangsangan bagi petani untuk memperbaiki aspek budi daya dan waktu pemetikannya agar bunga tidak cepat busuk dan layu sebelum sampai kepada konsumen.


Demi mencegah dan memperkecil kendala tersebut, sangat diperlukan kerja sama dengan berbagai pihak, misalnya bank, koperasi, peneliti, dan penjual

BAB I A. Prospek Bunga Melati

Pada saat sekarang ini, tanaman bunga melati memiliki prospek yang sangat baik sebagai mata dagangan lokal, tanaman bunga melati banyak diperlukan oleh masyarakat. Bahkan, melati telah memasuki pasaran ekspor (ke Singapura), meskipun kontinuitasnya belum stabil. Kebutuhan dunia akan bunga masih sangat tinggi. Volume ekspor berbagai jenis bunga, misalnya melati, mawar, anggrek, sedap malam, dan anyelir pada tahun 1989/1990 mencapai ± 11,519 ton (US $ 85.794). Angka tersebut masih bisa meningkat, sebab kebutuhan per tahunnya dapat mencapai sekitar 20,7 % dengan sasaran negara Eropa bagian barat (VIE), Jepang, Korea Selatan, Hongkong, dan Singapura.

Kebutuhan lokal akan melati juga sangat tinggi, terkadang masih jarang terpenuhi. Wilayah DKI Jakarta
misalnya, memerlukan sekitar 1,5-2 ton setiap bulannya.  Sementara para pedagang kecil/pengecer dapat menjual bunga melati rata-rata 5-10 kg per hari. Permintaan melati mengalami fluktuasi. Pada bulan Ramadhan dan Muharam

Jumat, 24 Januari 2014

Sekilas Tentang Melati

Tanaman melati (Jasminum) termasuk ke dalam suku Oleaceae adalah tanaman penghasil minyak atsiri yang dikenal dengan jasmine oil, berasal
drill India kemudian menyebar ke Malaysia, Philipina dan Indonesia. Jumlah spesies yang telah di budidayakan sudah mencapai 47 spesies dan tanaman melati yang potensial untuk dikembangkan ada 3 jenis, Melati.lasminum sambac Maid of Orleans, J. Sambac (timid duke of Tuscany dan J. Officinale. Di Indonesia,  melati yang paling umum dibudidayakan adalah Melati putih (Jasminum sambac) yang digunakan untuk  .1 tabur dan rangkaian bunga.  

Sedangkan Jasminum officinale digunakan untuk 
penyodap teh, pewangi dan bahan baku industri. Ditinjau 
atas areal pertanaman dan macam kegunaannya, 
melati mempunyai peluang bisnis besar dan 
prospek yang baik dalam agribisnis dan agroindustri.  

Sentra produksi terbesar bunga melati terdapat di Pulau Jawa, luas areal pertanaman di Jawa Tengah berkisar 317 Ha, Jawa Timur 45 Ha dan Jawa Barat 17 Ha. Produksi rata-rata nasional per tahun mencapai 1.254 ton, sementara itu kebutuhan minyak melati murni dunia adalah 4.000 Ton per tahun.
Tanaman melati cukup berpotensi untuk dikembang­kan dalam usaha agroindustri guna meningkatkan pendapatan petani dan devisa negara.